INILAH ATMOSFER DUNIAKU
SILAKAN HEMBUSKAN ATMOSFER DUNIAMU
TINGGALKAN JEJAK DAN KOMENTAR
AGAR AKU DAPAT BERKUNJUNG KE DUNIAMU

Kamis, 11 Desember 2008

Fenomena Kartu Kuning Part-1 _ Lebar-Padat-Berkeringat

Emank sie, tulisan ini termasuk telat publikasinya, hehehe.... Tapi ga papa ya, toh kejadiannya masih baru-baru aza kok.

Pukul 07.00 wib, kaki q melangkah pasti memasuki gedung kantor yang menyediakan jasa layanan pembuatan kartu kuning ini. Senyum ramah salah seorang staf yang berpapasan dengan q di pintu masuk, bikin pagi hari ini terasa semakin cerah.

Q teruskan langkah menuju loket registrasi di bagian belakang gedung ini.Ups... Kerumunan para pencari kerja di depan loket registrasi kartu kuning membuat langkah q terhenti sejenak. Woohoo... Bakalan lama nie, pikir q. Gimana enggak, antriannya ga cuma panjang, tapi juga lebaaaar. Tadinya aq pikir kepagian datang ke sini, ternyata...

Bingung juga ne harus ngantri dimana dan dari arah mana. Q tatap dinding kaca di loket registrasi, mencari-cari petunjuk dimana loket untuk memasukkan berkas perpanjangan masa berlaku kartu kuning q. Hmmm... Kertas-kertas yang menempel di kaca itu tulisannya terlalu kecil untuk bisa q baca dari jarak 5 meter di sisi kanan loket.

"Mas, lo mau masukin berkas perpanjang di sebelah mana ya?" tanya q pada lelaki yang mengantri di sebelah q.

"Di sebelah kiri, mbak. Nitip aza sama orang yang antriannya paling depan, minta tolong masukin ke loketnya gitu..." jawab si Mas menjelaskan pada q.

"Makasih ya..." sahut q.

Belum sempat aq melangkah menuju sayap kiri loket, teman si Mas tadi tiba-tiba menegur q.

"Bukan di sebelah sana mbak, di sini... Sebelah sana untuk bikin kartu yang baru" ujarnya sambil menepuk bahu temannya. "Gimana sie kamu..."

"Lho... Mana yang bener nie?" tanya q lagi.

"Bener mbak, di sebelah sini" jawab teman si Mas lagi.

"Bukaaan... Disebelah sanaaa..." sahut si Mas tadi. "Bener kok mbak, klo mau perpanjangan di sebelah sana, di sini buat yang baru".

Duuuh... Mana yang bener nih. Kenapa jadi ga jelas gene sie...???

"Sama aza kok mbak, di sini bisa, di sana juga bisa" tiba-tiba cewek berjaket sporty di depan q menimpali percapakan kami. "Nti, petugasnya yang ngatur di dalam. Yang penting ambil nomor antrian dulu mbak, nti klo dipanggil baru berkasnya dimasukin".

Wuaduuuh... Bakalan laen lagi ne ceritanya, pikir q.

"Truz, nomor antriannya ngambil dimana?" tanya q pada cewek itu.

"Di loket sebelah sini bisa, di sebelah sana juga bisa " ujarnya. "Aq juga lagi ngantri mo ngambil nomor antrian nie mbak."

Mati kita...!!! Ngantri untuk dapetin nomor antrian yang nanti qt gunakan lagi buat ngantri masukin berkas persyaratannya...???

Tiba-tiba, dari kerumunan yang berdiri tepat di depan q, menyeruaklah seorang ibu muda yang sedang hamil tua. Dengan tangan kiri yang menjinjing tas plastik berisi map-map dan tangan kanan memegang erat nomor antrian, si ibu mencoba menerobos keluar dari kerumunan yang padat. Agaknya, si jabang bayi juga turut membantu, karena q lihat sesekali si ibu muda terlihat mendorong kerumunan dengan perutnya yang besar itu.

"Akhirnyaaaa... dapat juga nomornya," ujar si ibu muda sambil menjauh dari padatnya kerumunan dengan ekspresi yang sulit q terjemahkan. Butiran keringat mengalir di dahi, mengalir di wajah, dan menetes ke tanah dari ujung dagunya.

Hhhhh... si ibu itu baru saja mendapatkan nomor antrian. Secara refleks Q perhatikan sepotong kertas kecil di tangannya. Tertera angka yang ditulis menggunakan spidol, 129. Mati kita...!!! Jam segeneeee..., udah urutan antri ke-129...???

"Ibu tadi udah urutan ke-129 lho... Kira-kira qt urutan ke berapa ya.." ujar q pelan pada si Mas dan temannya tadi, setengah bergumam pada diri sendiri.

"Tenang aza mbak, nomornya ga urut kok, tergantung kita ngambilnya aza. Pilih aza nomor yang kecil," sahut si Mas sambil berusaha mencari celah di depannya untuk maju selangkah lagi mendekati loket registrasi.>

"Kok bisa? Bukannya berurutan gitu?" tanya q cepat. Q tatap si Mas dengan mata terpicing dan dahi berkerut. Efek dari heran dan matahari yang semakin meninggi.

"Temen saya yang bilang gitu. Tadi dia udah ngambil nomor antrian, sebelum si ibu itu. Dapetnya nomor 174. Katanya sih, nomornya berserakan aja di loket, kita tinggal pilih sendiri nomornya" jawab si Mas.

Gubraaaakkkkh...!!! Ampuuuun pemerintah...!!!

Eh... Eh... Kok gitu sih...??? Mati kita...!!!

Perlahan q langkahkan kaki menjauh dari kerumunan lebar-padat-berkeringat itu, menuju gerobak pentol yang mangkal di bawah pohon tak jauh dari lokasi kerumunan. Mencari tambahan energi untuk durasi antrian yang kayaknya bakal lebih lama lagi.

4 comments:

Silakan tinggalkan jejakmu disini